Sebuah pendakian ke Gunung Gede via Cibodas
Perkenalkan,
nama saya adalah Fariel kerap juga di panggil akrab paril. Saya anak kedua dari 3 bersaudara, usia saya 13 tahun, saya mempunyai kakak yang bernama Farhan dan adik saya yang bernama Alika. Kakak saya yang mengajak saya untuk pergi mendaki gunung. Saya senang sekali menceritakan pengalaman
yang saya miliki dan saya juga senang sekali mendaki gunung.
Saat
ini, saya akan mendaki Gunung Gede, yang bertempat
di kabupaten Cianjur, jawa barat. Kita mendaki
bertiga, pada hari Rabu
jam 11 malam, kakak saya berencana mengajak saya untuk pergi mendaki
gunung bersama temannya( kak
Monay) untuk mendaki pada hari Sabtu pagi. Saya
sontak gembira, penantian lama saya
untuk naik gunung akhirnya tiba juga.
Pada hari Jumat pagi, saya dan kakak saya mempacking keril untuk memulai perjalanan besok paginya. Pada hari Jumat malam, pada pukul jam Setengah 6 malam, kita berkumpul di pom bensin untuk menuju ke Basecamp. Kita menunaikan sholat Isya dulu, setelah kita sholat Isya kita langsung berjalan menuju Basecamp yang memakan waktu sekitar 3 - 4 jam.
Paginya kita sarapan dengan nasi goreng yang kita beli di warung. Setelah kenyang kita mempacking kembali peralatan untuk mendaki. Jika sudah aman semua, kita langsung pergi ke tempat Registrasi pendakian. Disana semua di cek dari kesehatan tubuh, dan peralatan yang di bawa.
Di sana
saya berfoto dan jajan gorengan. Selesai
beristirahat, kita
pun memulai kembali perjalanan tersebut ke Rawa Panyangcangan. Sesampainya disana, saya langsung melihat titik trek pendakian
sebenarnya, di sana ada gazebo dan beberapa warung.
Kita
lanjut berjalan menuju pos Pondok Pemandangan dan kita mengeluarkan nesting
untuk merebus mie dan membuat teh hangat. Entahlah, makan mie di Gunung itu nikmat sekali,
karena perut sedang lapar “haha”.
| |
Urusan perut sudah selesai, lanjut perjalanan lagi melewati pos air panas. Memang curam sekali, trek ini banyak bebatuan licin, hanya bermodalkan tali dipinggir, dan uap nya sering kali membuat saya terbatuk. Ya, tentu saja itu malah membuat saya menjadi tertantang melewati trek tersebut.
Setelah melewati trek tersebut, kita berjalan lagi menuju
pos Kandang Batu. Di karenakan sudah memasuki waktu sholat Maghrib, kita langsung
mendirikan tenda di pos Kandang Batu, dan beristirahat di tenda yang sudah kita
dirikan.
Malamnya kita mengobrol sembari memasak mie dan membuat
teh hangat dikarenakan suhu di sana sangat dingin sekali. Perut sudah terisi,
waktunya tidur. Kita mengeluarkan SB (Sleeping
bag) dan keril yang kita gunakan sebagai bantal.
Paginya kita terbangun, waktu sudah menunjukan jam 9. Lalu
kita membuat sarapan dan menikmati susana di sana sejenak. Perut sudah kenyang,
lanjut tidur dan terbangun jam 11 “ ada ada aja nih haha”. Berbeda dengan
pendaki lain yang sudah summit sedari jam 5 untuk mendapatkan sunrise.

Setelah melewati tanjakan tersebut, kita langsung
berjalan lagi dan bertemu banyak pendaki yang sudah berjalan turun sehabis
summit. Di tengah perjalanan, saya pun mulai merasa sangat lelah, dan berhenti
setiap berjalan sebentar, dan menyebabkan stock air minum sudah sangat menipis.
Di karenakan di trek tidak ada warung, hanya ada di atas puncak atau di pos
bawah dan di jalur menuju puncak tidak ada sumber air. Sebisa mungkin kita
menghemat air.
Rasa haru dan bangga bisa berdiri tegak di puncak Gunung Gede. Banyak sekali pengalaman dan merasakan kehidupan di gunung yang berbeda dengan di kota. Di jalur pendakian kita di ikuti oleh burung yang seolah-olah menunjukan jalan menuju puncak.
Sehabis menikmati puncak dan berfoto sebagai dokumentasi,
lalu kita berjalan turun. Sampai di basecamp sudah memasuki pukul 8 malam. Tidak
lupa kita membawa kembali sampah untuk di bawa turun dan pulang untuk bertemu
dengan keluarga tercinta.
Kelap kelip lampu kota menghiasi kaki langit, menyambutku yang semakin yakin untuk mengakhiri petualangan.
Disini saya sudah mengerjakan rukun indie yang ke 5 “Naik gunung bila mampu”. /wiranagara-
Saya Muhammad Fariel
Salam lestari.

Komentar
Posting Komentar